Tidak ada yang memungkiri bahwa Antracnose atau yang lebih dikenal dengan istilah “pathek” adalah penyakit yang hingga saat ini masih menjadi momok petani cabe. Bagaimana tidak? Buah yang menunggu panen dalam beberapa waktu berubah menjadi busuk oleh penyakit ini. Sudah banyak petani yang menjadi korban keganasannya. Sekali tanaman cabe kita terkena antraknosa, maka akan sulit bagi kita untuk mengendalikannya. Oleh karena itu tindakan paling baik untuk penyakit ini adalah melakukan pencegahan sebelum terjadinya serangan. Gejala awal yang dapat dikenali dari serangan penyakit ini adalah adanya bercak yang agak mengkilap, sedikit terbenam dan berair. Lama – kelamaan busuk tersebut akan melebar membentuk lingkaran konsentris. Dalam waktu yang tidak lama maka buah akan berubah menjadi coklat kehitaman dan membusuk. Ledakan penyakit ini sangat cepat pada musim hujan. Penyebab penyakit ini tidak lain adalah jamur C. capsici. Jamur ini menyerang tidak pandang bulu, karena baik buah cabe yang masih hijau atau sudah masak pun tidak luput darinya. Penyakit ini sangat mudah menyebar ke buah atau tanaman lain. Penyebarannya tidak hanya melalui sentuhan antara tanaman saja melainkan juga bisa karena percikan air, angin, maupun melalui vektor. Tidak ada satu pun cara yang bisa dilakukan agar penyakit ini bisa 100% , namun kita bisa mencegahnya dengan kultur teknis yang baik. Dapat juga dilakukan pembersihan atau pembuangan bagian tanaman yang sudah terserang agar tidak menyebar. Selain dengan cara budidaya yang baik, saat pemilihan benih harus kita lakukan secara selektif . Disarankan agar menanam benih cabe yang memiliki ketahanan terhadap penyakit pathek. Penggunaan benih sembarangan akan beresiko terjadinya serangan penyakit. Secara kimia, pengendalian penyakit ini dapat disemprot dengan fungisida bersifat sistemik yang berbahan aktif triadianefon dicampur dengan fungisida kontak berbahan aktif tembaga hidroksida seperti Kocide 54WDG, atau yang berbahan aktif Mankozeb seperti Victory 80WP.

sumber: raholpapertanian.blogspot.com

Busuk Lunak (Soft Rot) : Erwinia Carotovora pv. carotovora (Jones) Dye.

Morfologi dan daur penyakit
Sel bakteri berbentuk batang, dengan ukuran (1,5 – 2,0) x (0,6 ¬0,9) mikron, umumnya membentuk rangkaian sel-sel seperti rantai, tidak mempunyai kapsul, dan tidak berspora. Bakteri bergerak dengan menggunakan flagela yang terdapat di sekeliling sel bakteri (flagela peritrichous). Bakteri bersifat Gram negatif.
Suhu optimal untuk perkembangan bakteri 27° C. Pada kondisi suhu rendah dan kelembaban rendah bakteri terhambat pertumbuhannya.
Penyebaran melalui tanah, sisa-sisa tanaman di lapangan dan alat pertanian.
Bakteri busuk lunak mempunyai daerah sebaran yang luas hampir di seluruh dunia. Di Indonesia terdapat di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.

Gejala serangan
Gejala awal pada daun terjadi bercak-bercak yang berair yang kemudian membesar dan berwarna coklat. Pada serangan lanjut daun yang terinfeksi, melunak berlendir dan mengeluarkan bau yang khas, bau tersebut merupakan gas yang dikeluarkan dari hasil fermentasi karbohidrat kubis.
Tanaman di pesemaian juga dapat diserang bakteri busuk lunak yang dapat menyebabkan kematian dalam waktu relatif singkat.
Infeksi bakteri lebih banyak dijumpai pada tempat penyimpanan atau pada waktu pengangkutan (pasca panen) dari pada di lapangan.
Bakteri busuk lunak merupakan parasit lemah yang dapat melakukan penetrasi pada inangnya hanya melalui luka misalnya pada bercak yang diinfeksi oleh patogen lainnya, luka karena gigitan serangga, atau luka karena alat pertanian yang digunakan untuk memanen kubis.

Tanaman inang
Kentang, wortel, seledri, tomat, selada, kailan, caisin, kubis bunga, petsai, sawi hijau, bawang merah, bawang bombai, bawang daun, bawang putih, semangka, tembakau dan ubi-ubian.

sumber: Berbagi Ilmu

Dean Nelson in New Delhi
Published: 8:00AM BST 29 May 2010

Honey bee

Britain has seen a 15 per cent decline in its bee population in the last two years Photo: ALAMY
Honey bee

Honey bee, (Apis mellifera mellifera), flying and collecting pollen from pussy willow, Germany, Bavaria Photo: ALAMY

Their disappearance has caused alarm throughout Europe and North America where campaigners have blamed agricultural pesticides, climate change and the advent of genetically modified crops for what is now known as ‘colony collapse disorder.’ Britain has seen a 15 per cent decline in its bee population in the last two years and shrinking numbers has led to a rise in thefts of hives.

Now researchers from Chandigarh’s Punjab University claim they have found the cause which could be the first step in reversing the decline: They have established that radiation from mobile telephones is a key factor in the phenomenon and say that it probably interfering with the bee’s navigation senses.

They set up a controlled experiment in Punjab earlier this year comparing the behaviour and productivity of bees in two hives – one fitted with two mobile telephones which were powered on for two fifteen minute sessions per day for three months. The other had dummy models installed.

After three months the researchers recorded a dramatic decline in the size of the hive fitted with the mobile phon, a significant reduction in the number of eggs laid by the queen bee. The bees also stopped producing honey.

The queen bee in the “mobile” hive produced fewer than half of those created by her counterpart in the normal hive.

They also found a dramatic decline in the number of worker bees returning to the hive after collecting pollen. Because of this the amount of nectar produced in the hive also shrank.

Ved Prakash Sharma and Neelima Kumar, the authors of the report in the journal Current Science, wrote: “Increase in the usage of electronic gadgets has led to electropollution of the environment. Honeybee behaviour and biology has been affected by electrosmog since these insects have magnetite in their bodies which helps them in navigation.

“There are reports of sudden disappearance of bee populations from honeybee colonies. The reason is still not clear. We have compared the performance of honeybees in cellphone radiation exposed and unexposed colonies.

“A significant decline in colony strength and in the egg laying rate of the queen was observed. The behaviour of exposed foragers was negatively influenced by the exposure, there was neither honey nor pollen in the colony at the end of the experiment.”

Tim Lovett, of the British Beekeepers Association, said that hives have been successful in London where there was high mobile phone use.

“Previous work in this area has indicated this [mobile phone use] is not a real factor,” he said. “If new data comes along we will look at it.”

He said: “At the moment we think is more likely to be a combination of factors including disease, pesticides and habitat loss.”

The UK Government has set aside £10 million for research into the decline of pollinators like bees, but the BBKA claim much more money is needed for research into the problem, including studies on pesticides, disease and new technology like mobile phones.

According to the University of Durham, England’s bees are vanishing faster than anywhere else in Europe, with more than half of hives

dying out over the last 20 years.

The most recent statistics from last winter show that the decline in honey bees in Britain is slowing, with just one in six hives lost.

This is still above the natural rate of ten per cent losses, but a vast improvement on previous years.

There has been an increase in the number of thefts of hives across the world and in Germany beekeepers have started fitting GPS tracking devices to their hives.

sumber: www.telegraph.co.uk